Sabtu, 16 April 2011

Reo and July

Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga Reo berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga July hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.

Dalam kehidupan mereka berdua, July sangat mencintai Reo. July telah melipat 1000 buah burung kertas untuk Reo dan Reo kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut July telah menuliskan harapannya kepada Reo. Banyak sekali harapan yang telah July ungkapkan kepada Reo. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi Reo dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada Reo.

Suatu hari July melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, July berkata kepada Reo: “ Reo, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku ingin menikah. dengamu Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “

Saat mendengar July berkata demikian, merenunglah Reo. Ia berkata kepada July : “July, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu July pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada Reo. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya July meninggalkan Reo menangis seorang diri.

July mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap Reo dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha July menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam 4 tahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal July, ia adalah bintang kesuksesan.

Suatu hari July pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. July pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua Reo. July mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. July membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua Reo.

July sangat terkejut ketika didapati orang tua Reo memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto Reo dalam makam itu. July pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Reo untuk menemui orang tua Reo.

Orang tua Reo pun berkata kepada July :”July, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Reo yang terkena kanker Otak. Reo menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua Reo menyerahkan sepucuk surat kumal kepada July.

July membaca surat itu. “July, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker Otak yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu July, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu
July................................

Reo
“ Setelah membaca surat itu, menangislah July. Ia telah berprasangka terhadap Reo begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Reo kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Reo mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih
memilih untuk menganggap Reo sebagai orang matre tak berperasan.Reo telah
berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar